Before The Rainbow *Part 1*

Dimana ada pertemuan, maka bersiaplah untuk sebuah perpisahan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan sebuah keluarga utuh satu-persatu akan menghilang, kembali pada sang pencipta. Perpisahan kadangkala sesuatu yang biasa. Namun, perpisahan yang berkala akan menorehkan perasaan trauma takut kehilangan, bahkan luka yang membekas meski telah tertiup oleh waktu.
Kehilangan dua orang yang berpengaruh bagi dirinya sudah cukup mematahkan secuil harapan di kehidupan untuk membahagiakan orang tuanya. Ketika masih ada kakaknya, penyemangat hidupnya adalah kakaknya, namun hari yang tak dibayangkan tiba. Ketika kakaknya juga mulai pergi dari kehidupannya. Hatinya hancur, ia merasa tak berguna. Hidupnya begitu abu-abu, tak berwarna.
Kim Hana.. semangat hidupnya sempat jatuh, namun ada hal yang membuatnya bangkit lagi. Dendam..

“Orang tuaku pergi karena tuhan yang memanggil lewat sakitnya, namun ketika kakak pergi.. dapatkah aku melupakan sebab kematiannya dan mengatakan ini karena takdir tuhan? Mungkin semua orang berpikiran begitu, tapi tidak untukku..” cara pikir Kim Hana.

Dendam dan cinta seakan bertarung. Entah siapa yang akan menang, biarkan saja mereka saling mengalahkan. Dendam ini bukan tak ada sebab, namun ini adalah dendam Hana yang muncul saat mengetahui kakaknya ‘Kim Nana’ meninggal karena teman satu traineenya yang kini hidup dengan tenang dan bergelimang kesuksesan. Ia benar-benar tahu, dendam bukan hal yanh baik, namun Hana tak dapat menahan diri melihat Park Ahra melupakan apa yang dilakukannya pada kakak Hana 3 tahun lalu.
Hati Hana terlalu sakit untuk mengingat perjuangan kakaknya bisa debut sebagai penyanyi solo. Namun pada akhirnya melebur begitu saja..

Hana trainee di agency yang sama dengan kakaknya yaitu K-Force Ent 1 tahun setelah kakaknya meninggal.Ia selalu pergi latihan, dan pulang larut malam.Tekatnya untuk mengalahkan Park Ahra membuatnya semakin gigih karena sikap angkuh dan gaya hidup mewah perempuan licik itu yang membuat Hana muak. Ia tahu Ahra lah yang membuat kakaknya tertekan hingga bunuh diri, Hana mengetahuinya dari buku harian kakaknya. Teror-teror berdatangan pada kakaknya saat itu, jika Park Ahra bisa dendam pada kakak Hana karena hal sepele, kenapa ia tidak bisa. Diary Kim Nana menjadi saksinya.
“Hana.. dunia ini kejam, mereka hanya mengingat orang-orang yang menonjol,orang yg luar biasa dan berbeda. Jika kau ingin dilihat dan diingat dunia, maka kau harus menjadi berbeda dan luar biasa.” Nasehat terakhir Kim Nana seperti sihir baginya untuk berkembang dan berkarya. Kakaknya adalah saudara satu-satunya di Seoul. Ia tinggal berdua di Seoul setelah kedua orang tuanya meninggal.

***

“Hana-ssi..” (ssi = sisipan kata panggilan untuk menggambarkan kesopanan pada orang baru/yang lebih tua)
Hana menoleh pada PD-nim yang memanggilnya, ia berdiri lalu menunduk sopan. Dalam hati Hana berteriak senang, akhirnya hari yang dinanti tiba,ia dapat debut menjadi solo singer artist. Umur Hana yang masih muda dan berbakat benar-benar berpeluang besar dalam industri hiburan. Harapannya untuk membalaskan dendam pada Park Ahra semakin dekat, setelah 2 tahun menunggu. Waktu yang cukup lama.

**

“Hana-ssi.. kau akan melakukan rekaman minggu depan dan mulai debut 3 minggu lagi. Apa kau siap?” PD-nim bertanya lalu menyeringai senang. Dengan mantap Hana mengangguk. “Ne PD-nim~ im ready to war.” Hana menipiskan bibirnya tersenyum penuh arti.
“Untuk sekolahmu, tenang saja.. kau bisa bersekolah dengan lancar . Kita akan mengatur debut stagemu pada sore atau malam hari saja.”

Minggu lalu Hana melakukan pembuatan Movie Video yang berasal dari idenya sendiri, ia merasa lega. Beruntung PD-nim mau menuruti konsep MV buatannya. Sore ini Hana akan melakukan debut pertamanya di Mnet Countdown. Meski dadanya bergemuruh,ia tetap tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri.
“Eonnie..ini semua untukmu.” Hana menelungkupkan kedua tangan di dadanya, ia begitu gugup, jari-jarinya dingin bagaikan es.
Riuh tepuk tangan penonton membuat jantungnya berdentum lebih keras lagi, kini langkah kakinya seakan membeku saat berada ditengah panggung, matanya mengamati penonton yang seakan menatapnya ganas, ia tetap tersenyum manis. “Hana.. dunia ini kejam, mereka hanya mengingat orang-orang yang menonjol, orang yg luar biasa dan berbeda.” Nasehat kakaknya terngiang di telinganya, sedetik kemudian musik hip hop dengan elektro musik terdengar, ini awal dari segalanya. Ia mulai melantunkan lagunya.

“Hana-sii jalnaga!” (Hana yang terhebat!) PD-nim menepuk bahunya saat ia turun dari atas panggung. Debut pertamanya sukses. PD-nim benar-benar bangga pada Hana. Respon para penonton begitu bagus.
Wajahnya yang cantik polos, suara dan kemampuan dance nya menjadikan image Cute & Fancy nya begitu kental. Sepulang dari Mnet CountDown ia bisa melihat beberapa wartawan berlari kearahnya. Mereka mulai mengorek informasi tentang dirinya, New Rookie Solo Singer.

***

Hana berhenti melangkahkan kakinya.
“Hana-ssi !” Seseorang mamanggilnya saat ia hendak masuk mobilnya setelah menyelesaikan rekaman untuk soundtrack drama sepulang sekolah.
“Ne ? Ohh.. Chanyeol sunbae.” (Sunbae : senior) Hana tersenyum ramah lalu menunduk 90°.
“Hana-ssi.. PD-nim memanggilmu, sepertinya ada yang ingin dikatakan. Di kantornya ya!” Ujar laki-laki didepannya itu. Chanyeol adalah leader dari Skybeat, boyband bentukan K-force Ent yang ketika baru saja debut memiliki banyak fans. Umur Chanyeol 20th, lebih tua 2,5th dari Hana.
“Ohh begitu? Baiklah.. Sunbae tidak kesana juga?” Chanyeol menggeleng. “Tidak.. aku hanya disuruh memanggilmu.” Sunbaenya itu tersenyum manis lalu menepuk pundak Hana. “Ada project baru untukmu..Wish you luck!”
Hana membulatkan matanya tak tahu arti kata-kata terakhir yang diucapkannya dan menatap punggung Chanyeol yang menjauh. Ia berjalan menuju ruangan PD-nim.
Hana mengetuk pintu ruangan PD-nim 2 kali, tapi sepertinya ketukannya kurang keras. Akhirnya ia beranikan diri membuka pintu tanpa ijin, tapi diam-diam.
Hana bisa melihat punggung seorang lelaki duduk didepan PD-nim. Ia kira ruangannya kosong.Hana baru saja akan menutup lagi pintu itu secara diam-diam saat ia dipanggil PD-nim.
“Hana-ssi !! Kemarilah..duduk sini.”
Ia terperanjat kaget,wajahnya memerah malu. Hana menuruti PD-nim dan duduk disamping laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya.
“Apa yang kau lakukan tadi? Oh iya kau sudah mengenalnya Hana?” PD-nim menaikkan alisnya. PD-nim menoleh pada sosok disamping Hana, Ia menggeleng polos. “mungkin lebih tepatnya saya belum mengenalnya PD-nim.” Jawab Hana lalu tertawa aneh menutupi malunya. Ia benar-benar buruk dalam hal mengenali artis, karena hidupnya 2 tahun ini sangat membosankan. Tapi benarkah dia artis? ahh.. entahlah..
Hidupnya benar-benar monoton, Hanya sekolah dan trainee, sekolah trainee.
“Dia adalah seniormu. Sudah debut tahun lalu, tapi aku mengirimnya ke Amerika untuk belajar saat dia sedang naik daun.”
Hana manggut-manggut. Meski ia tak sepenuhnya tertarik pada topik itu, ia tetap menganggukkan kepala pertanda paham.
“Strategi untuk menarik perhatian..” lanjut PD-nim sambil berbisik mendekat kearahnya lalu mengibaskan tangan. Hana hanya menatapnya aneh.
“Kim Donghwa..” PD-nim menunjuk laki-laki disamping Hana dengam dagunya. Spontan Hana langsung menoleh dan menyapa. “Ohh.. Annyeong..Bangapseumnida!” Hana menundukkan sedikit kepalanya. Sebenarnya ia bukan perempuan ramah, tapi karena posisinya di depan PD-nim ia harus menjaga image. Hana mengangkat kepalanya, ia bisa menangkap mata sipit runcing laki-laki dengan perawakan tinggi kurus itu, wajahnya juga tirus, Umurnya sepertinya sama dengan Hana.
“Dia lebih tua darimu 3 tahun Hana.. terlihat muda ya? Dia punya tampang imut memang.” Hana sedikit tersentak, PD-nim seperti bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan.
“Ahh~ PD-nim berlebihan! Hahaha..” mendengar tawa renyah itu Hana sedikit terkejut, ia kira laki-laki ini pendiam atau jaim karena garis wajahnya yang serius.
“Oh Hana-ssi .. annyeong!! Nae Hoobae!!” (Halo Hana..juniorku!!) Ucapnya riang. Laki-laki didepannya ini seperti hidup tanpa beban.
“Ahh.. aku sampai lupa! Jadi tujuanku mengundangmu itu untuk menawarkanmu project baru, dengan Park Donghwa, mm.. jadi sebenarnya ada dua project dimana-” Mata Hana memperhatikan baik-baik PD-nim yang memutus kata-katanya mendadak untuk menarik nafas.
“Project pertama, kau dan Donghwa berkolaborasi.. Temanya tidak hip hop, tapi lebih ke genre pop. Yang kedua, project bersama semua artis K-Force Ent. bernyanyi bersama, dan MVnya juga akan dibuat bersama-sama. Ini moment yang pas, Donghwa juga sudah pulang dari Amerika. Keluarga kita lengkap.”
“Ah.. itu bagus sekali PD-nim, aku akan menerima semuanya.” Hana tersenyum sopan.
“Baiklah.. aku akan menghubungimu lebih lanjut nanti.”
Ia lalu meminta ijin untuk pergi dahulu, karena ada pemotretan. Ia memberi salam pada PD-nim dan Kim Donghwa.
“PD-nim.. aku juga akan pergi. Sampai jumpa!” Hana mendengar laki-laki dibelakangnya juga berpamitan.
Hana menoleh kaget. Kim Donghwa berlari kearahnya, nafasnya memburu. Hana menatap aneh, ada apa dengan laki-laki didepannya ini.
“Hana-ssi.. aku minta nomer hpmu, PD-nim menyuruhku untuk lebih banyak berkomunikasi denganmu.” Donghwa mengulurkan Hpnya.
“Ohh benarkah.. ya sudah..” setelah keraguannya menghilang ia memberikan nomornya. Hana berjalan ke pintu keluar, Donghwa mengekor dibelakangnya.
Dari balik kaca gedung agencynya ia bisa melihat kerumunan Fangirl membawa banner dan poster. Itu fangirlnya siapa ya? Apa mungkin fansnya Skybeat? 
Teriakan fans-fans itu semakin keras saat ia membuka pintu gedungnya. Lalu menyerbu kearahnya. Apa? Ini fansku atau…
Hana merasa bahunya diraih seseorang. Benar saja, kini ia berdiri disamping pot bunga dekat pintu. Hana masih tercengang dengan pemandangan didepannya sekarang. Apa? Fans Donghwa? Mwo? Hana baru ingat kata-kata PD-nim tadi, Donghwa artis tertunda yang sangat populer.
“Hana-ya.. gwanchana?” Chanyeol menjentikkan jari didepan wajahnya.
Ia mengerjapkan matanya. Hana malah bertanya balik apa Chanyeol baik-baik saja, ia malah terkekeh tanpa sebab.
“wajahmu begitu shock.. ayo kita minum kopi dulu.” Bahunya didorong Chanyeol masuk ke kantor lagi. Ia pasrah saja.

“Bagaimana? Sudah baikan?” Tanya Chanyeol menatap wajah Hana. Ia seperti masih berpikir sesuatu. Chanyeol selalu datang pada saat yang tepat, meski ia tak begitu dekat dengannya.
“Oppa.. gomawoyo..” Hana berpamitan pulang. Didepan kantor agencynya sudah sepi, tidak ada kerumunan fans-fans tadi. Ia lega, lalu masuk mobil. Pandangannya kini terpusat pada sosok perempuan dengan sepatu high heels tinggi yang memasuki gedung agencynya. Apa yang ia lakukan? Tunggu sebentar…
Matanya membulat, apa yang dilakukan Park Ahra dan Kim Donghwa? Mereka saling tersenyum. Ada yang tidak beres.

***
“Hana-ssi !! Neomu jjang!!” (Hana.. ini benar-benar hebat!!)
Nam Cherry menenteng majalah dengan cover seorang perempuan memakai baju long dress elegant, iti adalah Hana sendiri.
Hana pura-pura saja bertanya, padahal ia tahu apa jawaban Cherry. Ia bingung mau menanggapi apa.
“Hey artis baru.. jangan lupakan aku, oke!! Sesibuk apapun dirimu, teman dan sekolah juga sangat penting.” Kata-kata Cherry membuatnya sedikit merasa nyeri, ia sadar bebarapa bulan ini sedikit mengabaikan temannya ini.
“Disini..” jari Cherry menunjuk artikel dengan gambar dirinya dan Park Ahra.
Ia langsung tertarik meraih majalah itu. Matanya mengamati kata demi kata yang tertulis disana.
“Kau menang.. wajahmu lebih cantik dari Park Ahra, ini polling pembaca.” Hana masih membaca artikel itu, senyuman kemenangan muncul dari balik bibirnya.
Ia sedikit membaik melihat berita itu. Entah kenapa ia merasa begitu hebat mengalahkan polling Park Ahra. Ini sudah saatnya ia bertindak..

Setelah bel pulang berbunyi,Hana dan Cherry langsung menuju gerbang sekolah. Cherry pulang dengan bus, sedangkan Hana menunggu jemputannya. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk dilakukan sepulang sekolah.
Ia membuka ponselnya, ada beberapa sms. Ia membuka sms dari nomor yang tak ada namanya.

From : +3489200

Hana, PD-nim baru saja memberitahuku kalau ada latihan untuk project kita hari ini. Pukul 6 sore. Jangan lupa!

Tue, 13 Dec 2012

Bisa ditebak itu pasti sms dari Donghwa yang 1 minggu lalu meminta nomornya. Matanya masih mengamati sekitar, ia bisa bernapas lega melihat Tn. Cho menjemputnya. Ia sedikit khawatir jika lama-lama diluar sekolahnya. Ia langsung masuk mobil.
“Nona, mau kemana?” Tn. Cho bertanya. Sejenak Hana berpikir untuk pulang. Ada yang harus ia lakukan.
“Pulang saja dulu Cho-nim, nanti pukul 5 sore anda jemput saya lagi ya..” Hana tersenyum. Tn. Cho adalah supir pribadi Hana dari PD-nim.
Ia lantas membuka pintu apartemennya. Apartemennya baru, ia mendapatkannya karena kesuksesan debutnya.
Kini ia berada didepan meja belajarnya menatap laptopnya, menyusun rencana pertama. Park Ahra.. wanna play with me?

****

Ia masih mengamati artikel didepannya dengan mata membulat. Senyum puas tergambar dari wajahnya, hanya tinggal menunggu waktu saja, Park Ahra.. tunggu saja waktunya.
“Hana-ssi.. kau sudah datang? Apa itu?”
Hana menatap sosok didepan matanya ini, otaknya memutar kejadian 1 minggu lalu. Sebenarnya ada hubungan apa mereka?
Hana menutup tabletnya. Donghwa sudah muncul, kini mereka sedang didalam ruang latihan berlatih untuk project baru. Selama 3 jam ia dan Donghwa mengarang gerakan dan berlatih untuk MVnya.

“Sunbae, aku pulang..” Ia menunduk sopan pada Donghwa. Beruntung 3 jam bersamanya tidak terlalu sulit untuk Hana, karena Donghwa mau mendengarkan idenya.

Hana tersenyum puas melihat berita di televisi, kabar tentang kekerasan kakaknya yang dilakukan Ahra. Ia puas dengan kerjanya itu. Setelah menulis artikel tentang kekerasan , Hana juga menyebarkan rahasia operasi plastik wajah Park Ahra.

Benarkah Park Ahra kami melakukan kekerasan?

Aku benar-benar menyesal mengidolakan orang sekejam dia.

Park Ahra? Benarkah dia membuat temannya bunuh diri?

Aku tidak menyangka wajahnya operasi..

Komentar-komentar di situs jejaring sosial CafeDaum begitu bermacam macam, Hana masih menatap layar laptopnya. Lalu melemaskan bola matanya dengan memutar leher dan menatap sekitar. Ia melihat bayangannya di kaca, lalu tersenyum penuh kemenangan.
Park Ahra.. maafkan aku.. ini semua hanya untuk mengingatkanmu..

Seusai menulis tentang isi diary Kim Nana, ia memotret diary yang ada di tangannya. Lalu menguploadnya, juga mengupload foto lama kakaknya dan Ahra ke CafeDaum sebagai buktinya. Tapi ia mem-blur mata kakaknya.
“Memotret apa?” Suara itu sukses membuat Hana terlonjak hingga ponselnya jatuh tercecer di lantai.
Hana menyembunyikan diary kakaknya, agar tak ada yang mengetahuinya.

***
Hana melakukan shooting MV untuk lagunya dengan Donghwa, di Lotte World Seoul. Lagu itu seorang pria yang hendak melamar kekasihnya.
Adegan pertama, Ski. Hana sedikit terkejut, ia begitu bodoh lupa membaca lembar pertama naskah MVnya. Ia tak tahu harus berbuat apa.
“Hana!! Kau harus bergandengan tangan dengan Donghwa lalu tersenyum bahagia ya..!!” Suara sang sutradara mengarahkan Hana yang masih terduduk dengan sepatu ski-nya. Ia membeku, mengutuki dirinya yang begitu ceroboh. Apa adegannya harus bermain ski? Tidak bisakah bermain salju saja..

“Hana.. ayo..!!” Kini wajah Donghwa muncul didepannya, ada sedikit titik cerah disana. Hana berharap Donghwa bisa menutupi keburukannya dalam bermain ski.

“Okayy!! Action!!”
Hana masih berpegangan pada tiang didekat bangku tempat duduk penunggu, padahal kamera telah merekamnya. Wajahnya begitu tegang.
“Cut !! Hana!! Apa yang kau lakukan?” Teriak sutradara itu kearahnya, Donghwa disamping sutradara juga menatapnya. Ia masih terdiam, badannya membeku. Terakhir ia bermain ski dengan kakaknya 3 tahun lalu, Kim Nana selalu menuntunnya bermain. Semenjak itu ia tak pernah bermain lagi, tak ada yang menuntunnya.
Sedetik kemudian Hana tersadar dari lamunannya, tangannya terasa hangat. Telapak tangan Donghwa kini menggengam punggung tangannya. Telapak tangan itu tidak begitu besar, cukup untuk menggenggam telapak tangan kurus Hana. Ia berjalan diatas es licin itu dengan tangan yang ditarik Donghwa. Jantungnya berdentum hebat, kenangan bersama kakaknya bagai sebuah film yang diputar ulang di memorinya.
Sudut mata Hana bisa menangkap lighting yang dinyalakan. Apa mereka tidak salah mengambil adegan? Aku tidak bisa berakting dalam keadaan tegang.. ya tuhan..

Kakinya menegang, begitupun dengan wajahnya yang lebih mirip dengan boneka mainan anak-anak yang bisa mengerjapkan mata.  Ia bersyukur sutradara mengubah sedikit naskah MVnya, menjadi kekasih yang mengajarkan pacarnya bermain ice skating.
“Kau tidak bisa main ice skating?” Suara itu memecah ketegangan diantara udara dingin itu.
“Kau bisa melihat diriku sekarang sunbae..” jawabnya dengan panik karena keseimbangannya hampir oleng, sementara tangannya semakin mencengkram erat pergelangan dan telapak tangan Donghwa.
“Aku terakhir bermain ini dengan kakakku 3 tahun lalu, dia yang selalu memegang dan menuntunku bermain.” Raut wajah Hana berubah muram, wajahnya menggambarkan kesedihan yang teramat dalam.
“Aku akan memegangimu mulai sekarang!” Donghwa menyeringai lebar.

“Okayy!! Cut!! Baguss.. Kita istirahat.. bertemu di arena bermain ya.” Sutradara berteriak senang.
Ia tidak habis pikir laki-laki didepannya ini bisa menariknya kedalam akting secara natural dengan obrolan yang ia mulai tadi.
Sekarang Hana sedang melanjutkan rencananya, ujung kanan bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan sinis. Matanya tersenyum pula pada layar laptopnya.
Ia tidak menyangka Park Ahra akan mendapat antifan sebanyak itu. Ia belum sempat menonton TV sejak 5 hari lalu.
Hana membuka kembali diary kakaknya. Foto dirinya dan kakaknya menghiasi sepanjang album itu, dengan 2 foto keluarga dimana ada ayah dan ibunya serta kakaknya, foto yang diambil saat ulang tahun Hana di taman dekat rumahnya. Pandangannya sedikit mengabur karena bulir air mata yang nyaris menetes.
“Hana-ssi! Shooting akan segera dimulai 10 menit lagi. Kau cepat turun..” Crew menegur Hana yang sedang berkutat dengan buku diary kakaknya. Ia langsung mengusap air matanya dan berdiri, lalu pergi dengan tergesa-gesa.

“Okayy!! Shooting akan dimulai 10 menit lagi, semua sudah siap? Donghwa kemana?”  Semua crew saling bertanya membuat suasana riuh. Namun tak lama kemudian yang diributkan datang.
“Ada apa mencariku?” Lagi-lagi ia datang dengan wajah konyolnya. Gaya rambutnya berubah lagi, kini lebih terlihat seperti Rain di film Full House.
Hana bisa melihat senyuman khas dr bibir Donghwa yg tertarik lebar melebihi lebar hidungnya, tapi terlihat sangat manis dengan bibir tipisnya.
“Hana-ssi.. adegan kali ini kalian kencan di toko accesories ini, buatlah sealami mungkin.” Mendengar arahan sutradara itu Hana menganggup paham, dan mulai berakting memilih sebuat bando didepan etalase toko. Adegan selanjutnya adalah Donghwa datang dan memakaikannya bando telinga kelinci berwarna putih, Donghwa sendiri juga memakai bando singa coklat. Hana sedikit terkejut saat kepalanya dipasang bando oleh Donghwa. Ia hampir lupa kalau sedang berakting.

Tangan Donghwa kini melingkar di pundaknya, kepalanya juga disandarkan di kepala Hana sementara kaki mereka berjalan selaras mengarungi lautan manusia di Namdaemun. Meski Hana sedikit pusing melihat lalu lalang orang-orang, ia bersyukur di adegan ini Donghwa menggandengnya, ia merasa aman meski hanya dalam sebuah adegan Movie Video.
“Hana-ya… kau ingin beli apa?” Mata Hana mengerjap beberapa saa, ia baru sadar jika tidak dalam dunia nyata, melainkan sebuah MV. Pertanyaan itu kan untuk menambah ekspresi dalam acting.. ya Tuhan ada apa dengan diriku..Boneka? Coklat? Bunga?” Celoteh Donghwa menunjuk penjual benda-benda yang ia sebutkan tadi.
“Apa? Hm.. aku mau hairband itu saja!” Hana juga tak mau kalah berakting, ia menarik-narik lengan jaket Donghwa menuju toko hairband diikuti kamera yang sedari tadi merekamnya. Hana dengan senang memilih bando yang benar-benar konyol, dan memakaikannya di kepala Donghwa. Bando telinga gajah yang sedikit panjang. Donghwa yang sedikit shock hanya bisa berusaha tersenyum didepan kamera.

Setelah adegan kencan belanja usai, para crew mulai mengucap selamat pada Hana yang sukses berimprovisasi di adegan kencan tadi. Donghwa sejak shooting di toko boneka tadi tiba-tiba menghilang.
“Eonnie.. ini bonekanya.” Hana menyerahkan boneka yang ia pakai shooting di toko boneka dengan Donghwa, mungkin itu boneka sponsor.
“wahh.. aku kurang tau menahu tentang boneka itu, sepertinya bukan dari sponsor..sudah buatmu saja tidak apa-apa..” kata asisten produser yang berperawakan besar itu. Hana semakin bingung. Ia mengambil ponselnya berniat untuk melihat perkembangan berita dari Park Ahra. Kini karir Ahra begitu diujung jurang, mata Hana menangkap sebuah artikel yang baru saja dipost 2 menit lalu.

Kim Nana kakak dari Kim Hana

Ia menatap tak percaya apa yanf dilihatnya. Kenapa bisa ada yang tahu, Hana mengernyit heran. Ia bahkan tak pernah menceritakan latar belakang keluarganya pada siapapun. Hana menutup mata, berpikir tentang masalah itu. Donghwa muncul secara tiba-tiba ketika ia membuka mata. Dengan telinga yang ditutup earphone, ia berjalan kearah sutradara. Hana memperhatikannya dari kursi santai di tengah rumah bergaya vintage itu.
“Hana-ssi!!” Panggil orang yang sedang ia perhatikan, buru-buru Hana mengalihkan pandangannya karena wajahnya yang terlanjur merona. Langkah kaki Donghwa semakin mendekat. Ia benar-benar membeku. “Hana-ssi kau sedang melamun ya ? Aku kira tadi kau diam-diam memperhatikanku..hahaha.” Sosok di hadapan Hana mengibaskan tangannya. “Hahaa..aku bercanda!!”
Hana memaksakan tawa yang begitu aneh. Ia masih memikirkan artikel itu daripada omongan orang didepannya itu.

“Action!!!” Suara pengeras suara sutradara Choi menggema ditelinganya, volumenya begitu besar hingga telinga Hana mendengung.
Tangan Hana meraih sebuah pisau lalu mengiris bawang putih, pikirannya masih menerawang pada artikel yang baru saja ia baca tadi. Sementara Donghwa menyalakan kompor dengan ekspresi aneh. Hana meliriknya sebentar, ia berusaha untuk tidak mengingat bahwa kamera sedang menyorotnya supaya actingnya natural. Ia menahan tawa melihat wajah panik Donghwa melihat percikan minyak panas dari penggorengan.
Ia mulai menumis satu persatu bahan untuk membuat nasi goreng, Hana sama sekali tidak mendengar kata ‘CUT’ sejak awal kamera dinyalakan oleh sutradara Choi, itu tandanya actingnya sudah bagus, ia dapat bernafas lega.
Tangan dan mata Hana kini terfokus pada penggorengan, aroma nasi goreng buatannya tercium harum memenuhi dapur shooting. Nasi gorengnya sudah masak, sementara Donghwa hanya menatapnya kagum. Hana menerawang lagi pada artikel itu, ia bingung harus mengatakan apa nanti. Ia meraih piring di sebelahnya, tidak terasa pisau di samping piring terjatuh. Pisau itu meluncur pada kakinya, mengucurkan darah segar. Hana memekik pelan, crew dan sutradara serta manager Hana terkejut dengan kejadian itu, tapi sutradara Choi melarang semua orang masuk ke area dapur itu dan menyuruh mereka untuk diam tenang.
Donghwa berlari kearah Hana, melihat luka di kakinya. Ia langsung membopong Hana karena kakinya yang tersayat pisau dan tertusuk pecahan piring. Donghwa menggendong Hana karena darah terus mengucur dari kakinya, suasana semakin tegang ditambah aroma gosong dari nasi goreng yang Hana tinggal.
“CUT!!” Sutradara bergumam sedikit lantang. Ia langsung mengikuti Donghwa yang menggendong Hana.
Ia menurunkan Hana di sofa di tengah ruangan, Hana masih merintih. Dengan wajah panik Donghwa berlari mengambil kotak obat. Sutradara Choi menghampiri Hana, tetapi kemudian membalikkan badan dengan sedikit berlari, tak lama kemudian Donghwa datang.
“Hana-ssi gwanchana?” Ia meneteskan obat merah pada kapas yang hendak di bubuhkan pada luka Hana.
“Gwancana..” Ia menjawab dengan bibir bergetar menahan perih obat merah. Nafas Hana terasa tertahan melihat wajah Donghwa sedekat ini. Bahkan ia tak percaya wajah konyol itu kini berubah menjadi kecemasan karena dirinya. Menyadari pikirannya yang mulai melayang tak karuan Hana membuka pembicaraan,
“Sunbae..  Aku tidak apa-apa..aku jadi merepotkanmu.”
Donghwa kini menatapnya, tak lama namun cukup membuat Hana sedikit tertegun. Ia sudah lama tidak berdekatan dengan seorang laki-laki, mungkin ini adalah efeknya.
“Aishh lihat lukamu ini.. hhaha aku memiliki sedikit pengetahuan tentang pengobatan seperti ini, jadi biarkan aku menjadi doktermu hari ini..” Hana mengulum senyum terima kasihnya. Setelah Donghwa membalut kakinya, terdengar suara ‘CUT!’ dari ujung ruangan. Hana terkejut melihat jejeran kamera dan lighting disana. Jadi… ini juga masuk dalam pembuatan MV..
Matanya membulat. Ia kini mengalihkan pandangannya pada Donghwa yang sedang menundukkan badan mengucap terima kasih pada crew dan sutradara. Jadi yang dilakukannya padaku hanya akting? Lukaku ini..  ini keterlaluan..
Hana bangkit dari sofa dan menjejakkan kakinya di lantai itu. Ia mengeram kesakitan, wajahnya sudah memerah menahan amarahnya yang semakin mendidih.
“Im Naya-ssi.. shootingnya sudah selesai kan? aku ingin pulang.” Hana berjalan tertatih. Donghwa meraih lengannya tapi ia tepis. “Gwanchana..” tolak Hana, Donghwa hanya terdiam menatap heran punggung Hana.
Di depan rumah tempat shooting Hana sedikit ramai, ia tidak peduli dan langsung berjalan menuju mobilnya. Kemarahannya benar-benar membuncah. Hana sedikit terkejut saat segerombolan wartawan berlarian kearahnya. Rentetan pertanyaan yang sambung menyambung itu membuat kepala Hana terasa berputar.
Badannya hampir roboh karena dorongan wartawan yang menyerbunya, bunyi ‘Klik’ seakan sebuah tembakan yang semakin membuat tubuhnya lemas.

Tentang happyjunitasari

gadis kelahiran 1997 yang sedang mencari jati diri dan bermimpi menjadi perempuan sukses :)
Pos ini dipublikasikan di Coretanku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s